Masih ingatkah kita semua
tentang Koperasi dengan asas kekeluargaan yang dahulu sangat populer dan kini
mulai meredup bahkan tak jarang anak muda zaman sekarang menganggap sebelah
mata akan peran serta kontribusi koperasi baik bagi diri, masyarakat maupun negara
secara masiv. Setelah membaca serta menonton beberapa referensi yang tersedia
baik online maupun offline seperti buku, saya sendiri semakin sadar bahwa
koperasi yang disebut-sebut sebagai kekuatan soko guru itu memang benar adanya
jika kita mau meng’hidup’kannya kembali.
Menurut Pak Suroto (Ketua Lembaga Pengkajian
& Pengembangan Koperasi – LePPeK dan Ketua Umum Asosiasi Kader
Sosio-Ekonomi Strategis – AKSES) dalam prolog di buku Bung Hatta “Membagun
Koperasi dan Koperasi Membangun” (2015) saat ini bangsa Indonesia lebih
mengedepankan demokrasi politik ketimbang demokrasi ekonomi, yang
berimbas pada kesenjangan sosial yang semakin jauh. Padahal jika kita
ingin membangun demokrasi ekonomi salah satunya ialah melalui koperasi ( selain
praktik lain seperti: bisnis mutual, kepemilikan lokal/local ownership,
serta ESOP – Employee Share Ownership Plan). Saya pribadi setuju
dengan pandangan beliau, karena memang saat ini kita terlena oleh berbagai
kemudahan yang disediakan oleh perusahaan/pihak asing dan kebijakan pemerintah
pun belum sepenuhnya mendorong suburnya usaha lokal maupun gerakan bersama yang
bersifat serta dimiliki lokal. Memang tidak semua dapat berjalan sesuai
keinginan kita, disinilah kita sebagai individu bisa ikut berperan dalam
membuat apa yang bisa dibuat sesuai dengan skill kita masing-masing demi
nusantara kita yaitu Indonesia agar lebih baik lagi.
Kembali kepada topik fakta yang menarik atau
mencengangkan bagi yang baru mengetahui seperti yang saya rasa ketika membaca
informasinya, berikut saya share 5 fakta dari banyak lainnya yang saya kutip
dari buku “Membagun Koperasi dan Koperasi Membangun: Gagasan & Pemikiran”
yang diterbitkan oleh Kompas di tahun ini (2015) dan dari Warta KUMKM yang
disediakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas (2014).
- Koperasi
di beberapa negara lain sangat berkontribusi dalam perekonomiannya dan
terbukti telah menjadi kekuatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang juga
dapat memerangi mafia pangan & energi. Perancis memiliki 21.000
koperasi yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk lebih dari 1 juta
penduduknya. Singapura menguasai sektor ritel hingga 62% dengan penetrasi
anggota koperasinya hingga 52% dari populasi penduduk. Amerika dengan
30.000 koperasinya dapat menyediakan lebih dari 2 juta lapangan pekerjaan.
Denmark, hampir seluruh rumah tangga telah menjadi anggota koperasi dan
kuasai pangsa pasar ritel hingga 71%. Brasil, sebanyak 37.2% berkontribusi
di sektor pertanian, dan sediakan layanan kesehatan untuk 17.7 juta orang.
- Perusahaan
ritel sebesar ‘ACE Hardware’ dan Klub Sepak Bola Dunia ‘FC Barcelona’
menggunakan bentuk koperasi dalam menjalani usahanya.
- Koperasi
terbesar di dunia berada di Jepang (Zennoh) yang merupakan koperasi
pertanian dengan berbagai usaha dan layanan, dan memiliki anggota sekitar
3 juta orang.
- Indonesia
memiliki jumlah koperasi terbanyak di dunia dengan jumlah koperasi primer
sebanyak 209.000 (BPS, 2015), namun sangat disayangkan bahwa potensi
kuantitas yang super belum diimbangi dengan kualitas/peranannya dalam
perekonomian nasional. Mungkin hal ini juga ada kaitannya dengan fakta
bahwa kurang lebih 90% koperasi di Indonesia adalah mengedepankan jasa
simpan pinjam (tidak produktif, biasanya diperuntukkan untuk kredit
konsumtif)
- Perusahaan/industri
pengolah susu di Indonesia yang sudah besar dan terkemuka seperti PT.
Frisian Flag Indonesia, PT. Indomilk, dan PT. Ultra Jaya memperoleh
pasokan susu segarnya dari koperasi-koperasi. Salah satunya adalah
koperasi PT. Industri Susu Alam Murni yang kemudian bertransformasi
menjadi industri pengolah susu yang hampir 100% produksinya diperuntukkan
untuk Danone (Milkuat strawberry, fruity, dan pouch choco). Beberapa
produksinya juga diperuntukkan untuk KPSBU (Koperasi Peternak Susu perah
Bandung Utara).
Nah, dari beberapa fakta tersebut sudah sangat jelas
bahwa Koperasi sangat bisa membangkitkan perekonomian Indonesia yang saat ini
sedang labil. Salah satu caranya ialah dengan mengoptimalkan fungsi koperasi
yang sudah ada menjadi lebih produktif (tidak hanya bergerak di jasa simpan
pinjam) baik dari segi organisasi kelembagaannya maupun kepercayaan masyarakat.
Perluasan fungsi kelembagaan dari koperasi simpan pinjam menjadi koperasi serba
usaha tentunya menjadi langkah yang dapat ditempuh. Dengan berbentuk koperasi
serba usaha maka koperasi akan lebih leluasa dalam pengembangan kedepannya
dengan membentuk unit usaha baru seperti trading house misal. Semoga
semakin banyak masyarakat serta UMKM yang tergabung dalam koperasi sehingga
roda perekonomian bisa berputar lebih kencang.
Sebagai tambahan, buku “Membagun Koperasi dan
Koperasi Membangun: Gagasan & Pemikiran” sangat direkomendasikan bagi kita
yang ingin mengetahui lebih tentang gagasan & pemikiran Bapak Koperasi Indonesia
yaitu DR. Mohammad Hatta (alm.). Pengantarnya disampaikan oleh Pak Reza
Fabianus selaku Ketua Koperasi Nasional 2014-2019. Saya sendiri masih
membacanya, dan baru halaman-halaman awal saja sudah bisa menggugah semangat
nasionalisme untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk
belajar sesuatu hal, yang kita perlukan hanyalah kemauan – kemauan untuk
membaca, memahami, menerapkan, dan mensosialisasikannya/berbagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar