Minggu, 08 Januari 2017

5 Fakta KOPERASI yang Wajib Diketahui


Masih ingatkah kita semua tentang Koperasi dengan asas kekeluargaan yang dahulu sangat populer dan kini mulai meredup bahkan tak jarang anak muda zaman sekarang menganggap sebelah mata akan peran serta kontribusi koperasi baik bagi diri, masyarakat maupun negara secara masiv. Setelah membaca serta menonton beberapa referensi yang tersedia baik online maupun offline seperti buku, saya sendiri semakin sadar bahwa koperasi yang disebut-sebut sebagai kekuatan soko guru itu memang benar adanya jika kita mau meng’hidup’kannya kembali.
Menurut Pak Suroto (Ketua Lembaga Pengkajian & Pengembangan Koperasi – LePPeK dan Ketua Umum Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis – AKSES) dalam prolog di buku Bung Hatta “Membagun Koperasi dan Koperasi Membangun” (2015) saat ini bangsa Indonesia lebih mengedepankan demokrasi politik ketimbang demokrasi ekonomi, yang berimbas pada kesenjangan sosial yang semakin jauh. Padahal jika kita ingin membangun demokrasi ekonomi salah satunya ialah melalui koperasi ( selain praktik lain seperti: bisnis mutual, kepemilikan lokal/local ownership, serta ESOP – Employee Share Ownership Plan). Saya pribadi setuju dengan pandangan beliau, karena memang saat ini kita terlena oleh berbagai kemudahan yang disediakan oleh perusahaan/pihak asing dan kebijakan pemerintah pun belum sepenuhnya mendorong suburnya usaha lokal maupun gerakan bersama yang bersifat serta dimiliki lokal. Memang tidak semua dapat berjalan sesuai keinginan kita, disinilah kita sebagai individu bisa ikut berperan dalam membuat apa yang bisa dibuat sesuai dengan skill kita masing-masing demi nusantara kita yaitu Indonesia agar lebih baik lagi.
Kembali kepada topik fakta yang menarik atau mencengangkan bagi yang baru mengetahui seperti yang saya rasa ketika membaca informasinya, berikut saya share 5 fakta dari banyak lainnya yang saya kutip dari buku “Membagun Koperasi dan Koperasi Membangun: Gagasan & Pemikiran” yang diterbitkan oleh Kompas di tahun ini (2015) dan dari Warta KUMKM yang disediakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas (2014).
  1. Koperasi di beberapa negara lain sangat berkontribusi dalam perekonomiannya dan terbukti telah menjadi kekuatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang juga dapat memerangi mafia pangan & energi. Perancis memiliki 21.000 koperasi yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk lebih dari 1 juta penduduknya. Singapura menguasai sektor ritel hingga 62% dengan penetrasi anggota koperasinya hingga 52% dari populasi penduduk. Amerika dengan 30.000 koperasinya dapat menyediakan lebih dari 2 juta lapangan pekerjaan. Denmark, hampir seluruh rumah tangga telah menjadi anggota koperasi dan kuasai pangsa pasar ritel hingga 71%. Brasil, sebanyak 37.2% berkontribusi di sektor pertanian, dan sediakan layanan kesehatan untuk 17.7 juta orang.
  2. Perusahaan ritel sebesar ‘ACE Hardware’ dan Klub Sepak Bola Dunia ‘FC Barcelona’ menggunakan bentuk koperasi dalam menjalani usahanya.
  3. Koperasi terbesar di dunia berada di Jepang (Zennoh) yang merupakan koperasi pertanian dengan berbagai usaha dan layanan, dan memiliki anggota sekitar 3 juta orang.
  4. Indonesia memiliki jumlah koperasi terbanyak di dunia dengan jumlah koperasi primer sebanyak 209.000 (BPS, 2015), namun sangat disayangkan bahwa potensi kuantitas yang super belum diimbangi dengan kualitas/peranannya dalam perekonomian nasional. Mungkin hal ini juga ada kaitannya dengan fakta bahwa kurang lebih 90% koperasi di Indonesia adalah mengedepankan jasa simpan pinjam (tidak produktif, biasanya diperuntukkan untuk kredit konsumtif)
  5. Perusahaan/industri pengolah susu di Indonesia yang sudah besar dan terkemuka seperti PT. Frisian Flag Indonesia, PT. Indomilk, dan PT. Ultra Jaya memperoleh pasokan susu segarnya dari koperasi-koperasi. Salah satunya adalah  koperasi PT. Industri Susu Alam Murni yang kemudian bertransformasi menjadi industri pengolah susu yang hampir 100% produksinya diperuntukkan untuk Danone (Milkuat strawberry, fruity, dan pouch choco). Beberapa produksinya juga diperuntukkan untuk KPSBU (Koperasi Peternak Susu perah Bandung Utara).
Nah, dari beberapa fakta tersebut sudah sangat jelas bahwa Koperasi sangat bisa membangkitkan perekonomian Indonesia yang saat ini sedang labil. Salah satu caranya ialah dengan mengoptimalkan fungsi koperasi yang sudah ada menjadi lebih produktif (tidak hanya bergerak di jasa simpan pinjam) baik dari segi organisasi kelembagaannya maupun kepercayaan masyarakat. Perluasan fungsi kelembagaan dari koperasi simpan pinjam menjadi koperasi serba usaha tentunya menjadi langkah yang dapat ditempuh. Dengan berbentuk koperasi serba usaha maka koperasi akan lebih leluasa dalam pengembangan kedepannya dengan  membentuk unit usaha baru seperti trading house misal. Semoga semakin banyak masyarakat serta UMKM yang tergabung dalam koperasi sehingga roda perekonomian bisa berputar lebih kencang.
Sebagai tambahan, buku “Membagun Koperasi dan Koperasi Membangun: Gagasan & Pemikiran” sangat direkomendasikan bagi kita yang ingin mengetahui lebih tentang gagasan & pemikiran Bapak Koperasi Indonesia yaitu DR. Mohammad Hatta (alm.). Pengantarnya disampaikan oleh Pak Reza Fabianus selaku Ketua Koperasi Nasional 2014-2019. Saya sendiri masih membacanya, dan baru halaman-halaman awal saja sudah bisa menggugah semangat nasionalisme untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk belajar sesuatu hal, yang kita perlukan hanyalah kemauan – kemauan untuk membaca, memahami, menerapkan, dan mensosialisasikannya/berbagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar